70% Kematian di RI Dapat Dicegah Lewat Tes DNA, Benarkah?

Asa Ren

Indonesia merupakan negara yang memiliki posisi unik di Asia Tenggara, dan jumlah populasi terbesar 273,8 jiwa. Indonesia pun memiliki kekayaan hayati tertinggi, yakni lebih dari 1.300 kelompok etnis.

Sayangnya, Indonesia masih belum memiliki pusat data DNA manusia (biobank) seperti di negara lainnnya. Padahal biobank bisa memiliki manfaat besar di industri kesehatan, seperti bahan baku utama dalam pembuatan obat, vaksin, dan inovasi lainnya.

“Ada lebih dari 3 miliar pasang DNA di dalam tubuh manusia. Banyak informasi yang dapat diketahui, seperti detail terkait gen, risiko penyakit, garis keturunan, kepribadian, hingga bakat,” ujar CEO Asa Ren Aloysius Liang dalam siaran pers, Kamis (16/2/2023).

Dia menambahkan berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI, lebih dari 70% kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit yang dapat dicegah dengan preventif dini melalui profil DNA setiap individu. Penyakit tersebut termasuk diabetes, jantung, stroke, dan kanker.

Adapun 17% dari total pengeluaran anggaran kesehatan telah dialokasikan untuk melakukan pencegahan penyakit. Aloysius mengatakan data DNA manusia yang seringkali dijadikan acuan pembuatan obat dan vaksin kebanyakan dari benua Eropa dan Amerika.

Padahal, 60% dari populasi dunia sebetulnya berasal dari rumpun Asia. Hal ini menyebabkan pengobatan yang diterima oleh warga Indonesia tidak 100% efektif. Aloysius menegaskan Asa Ren pun terus mengembangkan peralatan, tenaga ahli, serta laboratorium yang semuanya berada di Indonesia sehingga sampel untuk tes DNA tidak harus dikirim ke luar negeri. Perusahaan kini menyediakan aksesibilitas tes DNA langsung kepada konsumen.

Nantinya, hasil tes mencakup risiko kesehatan (predisposed risk), informasi keturunan (ancestry), serta laporan lainnya yang diperuntukkan bagi orang dewasa dan anak-anak. Dia menegaskan Asa Ren juga akan melanjutkan pembangunan tes DNA ini, agar dapat menciptakan produk-produk tes klinis.

Misalnya saja, tes DNA terkait respon manusia terhadap obat (pharmacogenomics) dan tes DNA untuk menguji resiko kanker yang diturunkan dari faktor genetik orangtua (OncoGx).

Dalam kesempatan yang sama Founder dan Managing Partner Kejora Capital, Andy Zain mengatakan penyedia tes DNA seperti Asa Ren bisa mempercepat peluang inovasi kesehatan.

“Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di Asia Tenggara. Hal ini membuka peluang untuk inovasi dalam bidang kesehatan melalui penelitian genetik. Kami percaya kehadiran Asa Ren akan mempercepat inovasi ini,” kata dia.

Dengan potensi inovasi yang dimiliki, Asa Ren pun telah meraih pendanaan tahap awal US$ 8,15 juta atau Rp 123,5 Miliar. Pendanaan ini akan difokuskan. percepatan inovasi industri kesehatan lewat tes DNA.

Putaran pendanaan ini dipimpin oleh Top Harvest dan Marcy Venture Partners, serta Kejora Capital (Kejora-SBI Orbit Fund dan Orbit Capital Malaysia). Adapun investor lainnya yang turut terlibat dalam pendanaan ini, di antaranya Northstar Ventures, Naya Capital, PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk, dan beberapa angel investor lainnya.

Dana segar ini akan digunakan untuk pengembangan data genomik demi inovasi industri kesehatan, khususnya untuk penemuan obat dan perawatan kesehatan yang lebih menyesuaikan profil genetik. Selain itu, Asa Ren juga akan memperluas upayanya dalam memperdalam kemampuan digital, paspor kesehatan elektronik, mengembangkan bioinformatika klinis, dan database clinico-genomic yang berfokus pada penyakit tidak menular.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*