Alert, Ini ‘Bom Waktu’ Untuk Ekonomi Indonesia, Siap Meledak!

Pekerja berlumuran minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) dari Kalimantan saat bongkar muat di Kapal Kencana 89 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Indonesia diramal oleh banyak pihak, termasuk Dana Moneter Internasional (IMF) sebagai salah satu yang bakal selamat dari gelombang besar resesi hingga stagflasi pada tahun depan.

Namun beberapa indikator ekonomi penting menunjukkan hal lain, ada bom waktu yang siap meledak, yakni kejatuhan harga-harga komoditas.

Faktanya, harga komoditas yang menjadi pundi-pundi penerimaan perusahaan dan negara cenderung dalam tren penurunan. Rata-rata turun dari titik tertinggi di awal tahun ini, melandai dan diprediksi akan terus menurun hingga tahun depan.

Pelemahan ini tidak lepas dari multi krisis yang diperkirakan terjadi pada 2023, mulai dari krisis keuangan, pangan, dan energi global dan ditambah dengan tekanan inflasi yang menjadikan dunia dibayangi ancaman resesi.

Adanya ketidakpastian yang disebut banyak pejabat pemerintah sebagai akibat dari the perfect storm, sejumlah lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2023 berada pada kisaran 2,3%-2,9%. Turun dari estimasi tahun ini, di kisaran 2,8%-3,2%.

Ini membahayakan kantong penerimaan negara yang selama ini cukup mengandalkan penerimaan dari sektor komoditas. Berikut fakta-fakta penurunan harga komoditas utama Indonesia.

Harga batu bara, yang menjadi primadona sekarang misalnya, pada kontrak Newcastle sudah mulai melandai dari puncak tertingginya, US$458 pe ton pada awal September lalu. Per hari ini sudah turun nyaris 15% ke harga US$391.

Prediksi Fitch Solutions harga batu bara juga turun mulai tahun depan, dari rerata estimasi tahun ini US$320 per ton, menjadi anljok ke US$280 pada 2023 dan US$250 pada 2024.

Masa depan harga minyak sawit lebih buram. Berada dalam tren penurunan tajam dari level tertinggi sepanjang masa di atas 7.000 ringgit Malaysia per ton pada akhir April lalu, kini nyaris tinggal separuhnya MYR4.123 per ton.

Prediksi yang dimuat trending economics menunjukkan harganya akan terus melandai hingga akhir 2013 menjadi di kisaran MYR3.000.

Demikian pula harga timah, perlahan menjauh dari level tertinggi US$50.000 per ton pada Maret tahun ini, terus menerus turun ke level di bawah US$20.000 per ton sekarang. Tren pelemahan ini diperkirakan juga akan terus berlanjut.

Sementara tembaga juga mengalami nasib yang sama. Harganya melorot dari level tertinggi, nyaris US$11.000 per ton pada Maret lalu kini nyungsep US$7.400-an per ton.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*