Dimodali Tetangga RI, Valuasi Fintech Raksasa Jeblok Rp 617 T

Pendiri Stripe John dan Patrick Collison

Valuasi perusahaan fintech terbesar di dunia, Stripe, anjlok US$ 40 miliar (Rp 617 triliun). Harga saham startup asal Irlandia tersebut jatuh dalam ronde pendanaan terbarunya, yang diikuti oleh Temasek.

Stripe pada Rabu (15/3/2023) mengumumkan pendanaan senilai US$ 6,5 miliar (Rp 100,36 triliun). Investor yang terlibat dalam pendanaan tersebut adalah Andreessen Horowitz, Goldman Sachs, dan perusahaan investasi milik pemerintah Singapura, Temasek.

CNBC International menyatakan harga saham Stripe dalam pendanaan terbaru tersebut merosot tajam sehingga valuasi perusahaan jeblok menjadi US$ 50 miliar (Rp 772 triliun). Stripe padahal sempat mencapai valuasi US$ 95 miliar (Rp 1.466 triliun) pada 2021.

Juru bicara perusahaan menegaskan bahwa suntikan modal segar tersebut bukan untuk membiayai operasional perusahaan. “Stripe tidak membutuhkan modal baru ini untuk bisnis sehari-hari.”

Dana tunai dari investor tersebut akan dimanfaatkan untuk menyediakan likuiditas kepada “karyawan dan mantan karyawan” serta kewajiban pajak terkait hibah dalam bentuk ekuitas.

Stripe adalah perusahaan penyedia pembayaran bagi raksasa teknologi besar seperti Amazon, Google, hingga Shopify. Perusahaan ini terus beroperasi secara privat meski berulang kali dikabarkan siap melepas sahamnya ke bursa.

Meski valuasi perusahaan turun, Stripe menyatakan saham yang dipegang oleh investor sebelumnya tidak terdilusi. Dengan menyediakan dana tunai untuk karyawan dan mantan pegawai, penerbitan saham untuk pendanaan terbaru akan terkompensasi.

Stripe telah berulang kali memangkas valuasi perusahaan secara internal. Pada Juli 2022, perusahaan mengumumkan pemangkasan valuasi dari US$ 95 miliar ke US$ 74 miliar. Pada Januari tahun ini, valuasi perusahaan sekali lagi dipangkas menjadi US$ 63 miliar.

Penurunan valuasi internal ini adalah imbas dari anjloknya minat atas saham teknologi yang terjadi sepanjang 2022.

Stripe juga tak lepas dari badai pemutusan hubungan kerja (PHK) yang memukul industri teknologi global. Sebanyak 14% dari pegawai Strip kena PHK pada November 2022.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*