Dolar AS Terbebani Utang Rp 460.000 T, Rupiah Melesat Lagi!

Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

 Rupiah menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Kamis (27/4/2023). Dolar AS yang tertekan akibat tanda-tanda pelambatan ekonomi serta masalah utang membuat rupiah mampu melanjutkan penguatan.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan di Rp 14.820/US$, menguat 0,07% di pasar spot. Penguatan bertambah menjadi 0,34% ke Rp 14.780/US$ pada pukul 9:08 WIB.

Indeks dolar AS yang turun 0,4% pada perdagangan Rabu. Penurunan indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini terjadi setelah Departemen Perdagangan melaporkan pesanan barang modal anjlok lebih besar dari prediksi pada Maret, begitu juga dengan pengiriman. Hal ini menjadi indikasi melambatnya ekonomi Negeri Paman Sam.

Pelaku pasar saat ini menanti data pertumbuhan ekonomi AS kuartal I-2023 yang akan dirilis malam ini. Sejumlah polling menunjukkan ekonomi Negara Paman Sam akan melandai atau bahkan terkontraksi pada Januari-Maret 2023.

Analis memperkirakan ekonomi AS sudah terimbas besar oleh kebijakan moneter yang sangat ketat.

Selain itu, masalah pagu utang juga membebani dolar AS. Amerika Serikat kembali terancam gagal bayar utang (default) dalam waktu dekat. Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Keuangan AS Janet Yellen, bahkan sudah mewanti-wantinya sejak tahun lalu.

Utang Amerika Serikat menembus US$ 31 triliun atau sekitar Rp 460 ribu triliun (kurs Rp 14.900/US$) untuk pertama kali dalam sejarah pada Oktober tahun lalu.

Data dari Kementerian Keuangan menunjukkan per 31 Maret utang Amerika Serikat menembus US$ 31,45 triliun, menjadi yang terbesar di dunia.

“Kegagalan utang kami akan menghasilkan bencana ekonomi dan keuangan,” kata Yellen kepada anggota Kamar Dagang Metropolitan Sacramento, Selasa (25/4/2023).

“Kegagalan akan menaikkan biaya pinjaman selamanya. Investasi masa depan akan menjadi jauh lebih mahal,” tuturnya, dikutip dari Reuters.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*