Menakar Arah Laju Komoditas Semester II-2022

FILE PHOTO: Trucks are parked at the open-pit mine of PT Freeport's Grasberg copper and gold mine complex near Timika, in the eastern region of Papua, Indonesia on September 19, 2015 in this file photo taken by Antara Foto.   REUTERS/Muhammad Adimaja/Antara FotoATTENTION EDITORS - THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. IT IS DISTRIBUTED, EXACTLY AS RECEIVED BY REUTERS, AS A SERVICE TO CLIENTS. FOR EDITORIAL USE ONLY. NOT FOR SALE FOR MARKETING OR ADVERTISING CAMPAIGNS MANDATORY CREDIT. INDONESIA OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN INDONESIA./File Photo

Harga komoditas dunia menguat sepanjang semester I-2022. Indeks komoditas S&P Goldman Sachs berada di 786,46, naik 40,14% point-to-point sepanjang semester I-2022.

Sektor energi jadi pendorong didukung oleh ketatnya pasokan. Kemudian diikuti oleh harga komoditas pangan dan tumbuhan. Lalu bagaimana prospek pasar komoditas di paruh kedua 2022?

Pandangan positif harga komoditas menyelimuti harga komoditas dunia pada paruh kedua. Ada beberapa faktor seperti sanksi terhadap Rusia, cuaca, kendala pasokan, dan ekonomi China.

Goldman Sachs Group Inc. mengatakan, harga komoditas belum mencapai puncaknya meskipun harga komoditas global mulai koreksi.

“Kami setuju bahwa ketika ekonomi berada dalam resesi cukup lama, permintaan komoditas turun dan karenanya harga turun,” tulis analis termasuk Jeffrey Currie dalam sebuah catatan.

“Namun kami belum berada di kondisi itu, dengan pertumbuhan ekonomi dan permintaan pengguna akhir yang hanya melambat, tidak langsung turun,” catatan.

Musim dingin di paruh kedua 2022 akan mendorong permintaan energi untuk menyalakan penghangat ruangan. Negara-negara yang banyak menggunakan gas, permintaannya akan naik.

Namun, pasokan yang kian terbatas karena sanksi terhadap pasokan Rusia. Konflik Rusia dan Ukraina membuat harga energi meningkat. Sebab Rusia sebagai salah satu pemasok gas, minyak mentah, dan batu bara utama dunia, dikenai sanksi ekspor oleh negara-negara barat.

Eropa, yang jadi salah satu pemberi sanksi dan bergantung kepada energi Rusia, menjadi was-was karena mampetnya aliran energi berakibat pada ancaman krisis energi di Benua Biru. Begitu juga di negara lain yang mulai menghindari pembelian produk energi dari Rusia.

Gas alam cair (LNG) menjadi salah satu alternatif Eropa sebagai pengganti gas pun harus berebut dengan permintaan dari Asia terlebih lagi jika pabrik ekspor utama AS tetap tutup.

Batu bara pun kemudian jadi salah satu alternatif bagi negara Eropa yang membuat permintaan akan meningkat ditambah dimulainya musim dingin. Sementara pasokan dari eksportir terbesar ketiga, Rusia, juga terhambat karena sanksi.

Hal ini yang kemudian akan jadi pendorong harga gas dan batu bara Eropa dan dunia.

Harga minyak mentah dunia pada tahun 2022 diperkirakan masih berada di atas posisi US$ 100/barrel.

Dari sisi supply, negara-negara Uni Eropa telah setuju untuk melarang 90% dari impor yang berasal dari Rusia yang akan dihapus secara bertahap selama enam hingga delapan bulan ke depan.

Hal ini membuat minyak Rusia susut dari pasokan dunia. OPEC memperkirakan produksi dari Rusia direvisi turun 0,25 mbd dari 10,8 juta barel per hari (mb/d) menjadi 10,63 mb/d.

Rusia sendiri merupakan salah satu produsen minyak dunia besar di dunia. Kontribusinya berkisar 12% dibanding produksi minyak dunia.

Namun, secara keseluruhan produksi minyak mentah dunia pada 2022 diramal naik menjadi US$ 71,13 mb/d pada 2022, dari 68,88 mb/d pada tahun lalu.

Meski pasokan naik, namun mampu diimbangi oleh demand yang juga menguat. Permintaan minyak dunia global pada semester II-2022 diperkirakan sebesar 100,8 mb/d naik dari paruh pertama 2022 sebesar 98,7 mb/d.

Hal ini dikarenakan mulai dibukanya lockdown di banyak negara setelah virus corona (Coronavirus Disease 2019/COVID-19) dikendalikan.

Terutama di China yang merupakan konsumen utama minyak mentah dunia. Pelonggaran di Beijing dan Shanghai jadi sentimen positif bagi pasar minyak mentah dunia.

Sehingga total permintaan minyak mentah dunia pada 2022 sebanyak 100,29 mb/d, naik 3,36% dibanding 2021.

OPEC dalam laporan bulanan nya memperkirakan rata-rata harga minyak mentah jenis brent pada 2022 senilai US$ 102,33/barrel. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding 2021 sebesar US$ 63,52/barrel.

Sementara jenis light sweet atau WTI rata-ratanya US$ 99,2/barrel pada 2022, melonjak dari tahun lalu US$ 60,25/barrel.

Sementara pengamat minyak veteran Citigroup Inc. Ed Morse melihat minyak mentah turun ke $80-an pada kuartal keempat karena “hambatan kuat terhadap pertumbuhan ekonomi”.

Konsumen utama logam masih akan menjadi faktor kunci dalam beberapa bulan mendatang, terutama jika ekonomi meningkat dan mencapai target pertumbuhan tahunan 5,5%. Hal ini diperkirakan akan meningkatkan permintaan logam.

Stimulus dari pemerintah China untuk membangkitkan ekonomi akan memiliki peran krusial. Terutama untuk membangkitkan sektor properti yang telah lesu sejak tahun lalu.

Nantinya stimulus untuk membangkitkan sektor properti akan menambah permintaan bagi tembaga dan bijih besi.

Karantina wilayah (lockdown) oleh China sebagai upaya menahan penularan virus Corona (Coronavirus Disease 2019/Covid-19) sudah mulai dibuka menjadi salah satu katalis positif bagi harga komoditas logam.

Chintan Karnani, direktur penelitian di Insignia Consultants memperkirakan permintaan China untuk logam industri kemungkinan akan meningkat sangat tajam pada kuartal ketiga karena pabrik beroperasi pada kapasitas penuh.

Sementara tingkat bunga global yang “meningkat” oleh sebagian besar bank sentral akan mencapai puncaknya pada Oktober, tambahnya.

Kenaikan suku bunga oleh bank sentral di dunia menjadi tekanan bagi logam. Sebab dapat menjadi pemantik resesi yang dapat melemahan permintaan dari logam industri.

Ketua bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserves/The Fed) menyatakan koitmen tidak akan membiarkan ekonomi jatuh ke dalam “era inflasi yang lebih tinggi”. Bahkan jika itu berarti menaikkan suku bunga membahayakan pertumbuhan ekonomi.

Sementara tingginya inflasi membuat bank sentral Eropa (ECB) tampaknya akan menaikan suku bunga bank pada bulan ini sebesar 25 basis poin. Lalu diperkirakan akan lebih agresif pada September dengan kenaikan 50 basis poin.

Hal ini juga membuat logam mulia seperti emas tertekan meskipun biasa berfungsi sebagai lindung nilai dalam ketidakpastian ekonomi.

Perak lebih parah karena menyandang status sebagai bahan baku industri selain logam mulia mendapat tekanan dari kenaikan suku bunga dan resesi.

Harga biji-bijian dinilai sudah mencapai puncaknya, begitu juga dengan harga pangan global. Penyebabnya dalah lebih banyak pasokan yang sedang dikirim.

Produksi gandum pada musim dingin yang sedang berlangsung di bumi bagian utara diharapkan memenuhi pasokan. Begitu juga panen gandum musim semi, jagung, dan kedelai. Hambatan datang dari kekeringan Amerika Selatan yang membuat produksi turun.

Pada paruh kedua 2022 pasokan global diperkirakan akan tetap kerak karena jutaan ton biji-bijian masih tertahan pengirimannya dari Ukraina.

Minyak kelapa sawit, minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi di dunia, baru saja merosot ke level terendah tahun ini karena produsen utama Indonesia meningkatkan ekspor.

Sementara gandum, jagung, dan kedelai jatuh dari level tertingginya. Biaya pangan global telah turun dari puncaknya sepanjang masa di bulan Maret, dan lebih banyak lagi penurunan akan menyusul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*