Sampoerna Perkuat Nilai Tambah Rantai Pasok Bagi Petani

Direktur PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) Elvira Lianita dalam B20 Indonesia Investment Forum 2022.

Sektor agrikultur bisa menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi Indonesia, mulai dari sisi hulu hingga hilir. Agrikultur juga menjadi salah satu sektor yang bisa memberdayakan petani dan memberikan nilai tambah.

PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) menjadi salah satu perusahaan yang fokus mendorong sektor agrikultur melalui praktik kemitraan untuk menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kami berkomitmen pada keberlanjutan dan mengajak kolaborasi yang relevan, untuk terus mendorong sektor agrikultur menjadi motor pertumbuhan ekonomi,” kata Direktur PT HM Sampoerna Tbk, Elvira Lianita dalam B20 Investment Forum di Badung, Jumat (11/11/2022).

Sebagai bagian dari rangkaian acara B20 Indonesia 2022, diskusi panel dengan tema “Pertanian sebagai Motor Pertumbuhan: Memastikan Keberlanjutan” ini juga turut menghadirkan CFO PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. Jap Hartono dan Lead, Sustainable Investment & InclusionGrow Asia Erin Sweeney serta dimoderatori oleh Prasetyo Singgih dari KADIN Indonesia.

Elvira melanjutkan, HMSP telah bermitra dengan 22 ribu petani tembakau dan cengkih melalui perusahaan pemasok. Dari mata rantai bisnis yang dimiliki perusahaan, pengembangan ekonomi dilakukan mulai dari petani, pekerja, hingga pemberdayaan UMKM.

“Kami memberdayakan 200 ribu UMKM toko kelontong yang tergabung dalam Sampoerna Retail Community (SRC) dan 64 ribu wirausaha di bawah binaan Sampoerna Entrepreneurship Training center di Pasuruan,” ujarnya.

Sampoerna juga menjadi salah satu perusahaan tembakau pembayar pajak terbesar, yakni senilai Rp 78,7 triliunsepanjang tahun 2021. Sementara dari sisi ekspor, pada 2021, HMSP telah melakukan ekspor ke 40 destinasi di duniasenilai US$ 122 juta.

Menurut Elvira, penciptaan nilai bagi seluruh rantai pasok maupun masyarakat luas sangat penting.

Dia menegaskan, petani memiliki peran vital dalam menjaga kelangsungan bisnis hingga rantai pasok perusahaan.Dengan program kemitraan sejak 2009, para petani mitra Sampoerna menerima pembinaan secara terpadu dan menyeluruh. Pembinaan tersebut berlangsung mulai dari pembibitan, penanaman, hingga panen.

Program kemitraan menjamin penyerapan produksi sesuai dengan kesepakatan bersama antara petani tembakau dan pemasok. Dengan demikian, program kemitraan telah menghindarkan petani dari rantai perdagangan tembakau dan tengkulak yang panjang sehingga berpotensi untuk mengurangi keuntungan petani secara signifikan.

“Jadi kami memberikan pendampingan teknis, transfer teknologi, hingga akses terhadap prasarana produksi pertanian, sehingga bisa tercapai kualitas dan kuantitas yang diharapkan,” kata dia.

Hal ini penting dilakukan mengingat tembakau merupakan salah satu tanaman yang sensitif pada perubahan lingkungan. Apalagi kini perubahan iklim memberikan ancaman lebih besar pada risiko gagal panen, ataupun kualitas tembakau yang kurang maksimal.

Elvira mengungkapkan perubahan iklim menjadi salah satu tantangan terbesar, yang bisa dimitigasi melalui penggunaan air yang efisien, penggunaan pestisida secara bijaksana, dan pengelolaan sampah.

“Bagi Sampoerna, keberlanjutan berarti memastikan komoditas secara berkelanjutan serta aspek lingkungan dan sosial ekonomi untuk seluruh rantai nilai, termasuk petani,” pungkas Elvira.

Dalam kesempatan yang sama, Lead, Sustainable Investment & Inclusion Grow Asia Erin Sweeney mengatakan, meski memiliki potensi besar, sektor agrikultur memiliki sejumlah tantangan. Akibatnya, kontribusi pada perekonomian dan pemberdayaan masyarakat pun serigkali kurang maksimal.

“Adaptasi terhadap perubahan iklim adalah kesempatan investasi, tapi di Asia Tenggara adopsinya di sektor pertanian masih tertinggal,” kata dia.

Bahkan solusi dengan teknologi sederhana pun sulit dilakukan karena masalah skala ekonomi. Akibatnya, akses ke lembaga keuangan pun masih minim.

“Masalah ekonomi seringkali menjadi bottleneck untuk inovasi di sektor agrikultur berskala besar di Asia. Mereka terlambat mendapatkan modal masuk untuk agrikultur dan memiliki ancaman ketahanna pangan,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah bersama berbagai stakeholder tetap bisa menjadikan sektor agrikultur menjadi pendorong dengan empat syarat. Pertama, meningkatkan literasi finansial. Kedua, meningkatkan infrastruktur keuangan. Ketiga, meningkatkan inklusi pada rantai pasok. Terakhir meningkatkan prosedur penilaian risiko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*