Satu ‘Tembok Kokoh’ sebelum IHSG Menuju Uptrend Lagi

Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat tinggi 1,29% ke posisi 6.910,14 pada penutupan sesi II perdagangan Rabu (26/4/23).

Sebanyak 325 saham menguat, 210 saham melemah, sementara 201 lainnya mendatar. Perdagangan menunjukkan nilai transaksi mencapai sekitar Rp. 15 triliun dengan melibatkan 13,9 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 1,46 juta kali.

Berdasarkan data dari https://linkalternatifkas138.store/ Bursa Efek Indonesia (BEI) via Refinitiv seluruh sektor kompak menguat dengan sektor Industri dan Energi memimpin penguatan sebesar dua persen lebih.

Hari ini secara eksklusif IHSG diperdagangakan di wilayah positif. Dalam lima hari perdagangan IHSG terapresiasi 1,64%. Sementara itu, secara year to date (ytd) indeks membukukan apresiasi sebesar 0,87%.

Pada penutupan perdagangan perdana pasca lebaran kali ini juga berhasil memutus tabu koreksi IHSG dua tahun terakhir.

Secara historis, IHSG sebenarnya selalu menguat pada hari pertama pasca Lebaran.

Pada periode 2013-2022 atau 10 tahun terakhir, IHSG ditutup di zona hijau sebanyak enam kali pasca Lebaran dan hanya empat kali melemah.

Pelemahan terjadi pasca Lebaran 2013, 2018, 2021, dan 2022.

Pada periode pra-pandemi, ada kecenderungan IHSG ditutup menghijau setelah Lebaran. Namun, nasib buruk IHSG justru terjadi pasca pandemi. Dalam dua tahun IHSG selalu melemah setelah libur panjang Lebaran.

Pada 2021, IHSG langsung ambruk 1,76% pasca libur Lebaran sementara pada 2022 anjlok 4,42%.

IHSG ambruk pada 2021 setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) siap ambil ancang-ancang untuk hawkish.

IHSG juga tumbang karena lonjakan kasus Covid-19. Bayangkan saja lebih dari 1,5 juta orang tercatat mudik. Dari random sampling kepolisian, sebanyak 60% pemudik teridentifikasi Covid-19. Bagi pasar kenaikan kasus infeksi Covid-19 menunjukkan adanya risiko.

Kekhawatiran tersebut terbukti karena setelah Lebaran, kasus Covid-19 meledak dan menjadi periode paling berdarah-darah.

Masuknya varian Delta, belum adanya vaksinasi masal, serta penyebaran selama Lebaran membuat kasus harian Covid melonjak dari 5.000an per hari menjadi 30.000an ribu pada Juni 2021.

Pada 2022, IHSG juga langsung ambruk pada hari pertama setelah libur Lebaran.

Berbagai sentimen eksternal telah menghiasi perdagangan selama seminggu terakhir. Mulai dari perkembangan perang Rusia-Ukraina yang diwarnai dengan embargo minyak oleh Uni Eropa.

Kemudian juga dilanjutkan dengan pengetatan moneter oleh bank sentral AS The Fed maupun Inggris Bank of England (BoE) dalam rangka untuk menjinakkan inflasi yang sudah mencapai level tertinggi dalam puluhan tahun.

The Fed menaikkan kebijakan 50 bps pada awal Mei 2022 atau pada saat pasar Indonesia masih libur.

Pasca-lebaran, investor akan kembali bersiap mencermati setiap respons pasar global atas kebijakan moneter bank sentral global, terutama The Fed.

Terdekat, The Fed akan mengadakan rapat FOMC (Federal Open Market Committee) terkait suku bunga dan kebijakan moneter lainnya pada 2-3 Mei mendatang.

Sementara, Biro Analisis Ekonomi AS (Bureau of Economic Analysis) akan merilis estimasi lanjutan (advance) PDB AS untuk kuartal I pada Kamis mendatang waktu AS.

Diproyeksikan, angka GDP Q1 AS akan tumbuh 2% pada periode 3 bulan pertama tahun ini, melambat dari pertumbuhan 2,6% pada kuartal IV 2022.

Sementara, Dewan Konferensi atau Conference Board AS memprediksi, pertumbuhan PDB/GDP AS naik 0,7%, turun dari 2,1% pada 2022 seiring inflasi yang terus persisten dan kebijakan hawkish ala The Fed menekan pertumbuhan.

Sejauh ini, Wall Street akan melihat data tersebut sebagai sinyal lain untuk melihat apakah risiko resesi semakin datang. The Fed sendiri masih belum benar-benar menunjukan sinyal dovish, kendati tampaknya tidak akan seagresif sebelumnya ke depan.

Analisis Teknikal

IHSG dianalisis berdasarkan periode waktu harian (daily) menggunakan moving average (MA) dan pivot point Fibonacci untuk mencari resistance dan support terdekat.

Pada Rabu (26/4), IHSG membentuk candle hijau besar (marubozu) dan menembus resistance 6.878 dan kembali ke level psikologis 6.900 (tepatnya 6.910).

Resistance terdekat untuk IHSG selanjutnya adalah MA 200 yang krusial di level 6.928. Penembusan ke atas MA 200 akan menjadi sinyal kuat kembalinya IHSG ke uptrend.

Pergerakan IHSG juga dilihat dengan indikator teknikal lainnya, yakni Relative Strength Index (RSI) yang mengukur momentum.

RSI merupakan indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu.

Indikator RSI berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20. Dalam grafik harian, posisi RSI naik ke 61,57.

Sementara, dilihat dari indikator lainnya, Moving Average Convergence Divergence (MACD), grafik MACD berada di atas garis sinyal dengan kecenderungan melebar. Sedangkan, histogram kembali membentuk bar positif.

Hari ini, IHSG berpotensi menguji resistance berupa MA 200 (6.928) sebelum menentukan arah selanjutnya. Apabila berhasil menembus MA 200, resistance berikutnya di level 6.960.

Sementara, apabila IHSG gagal menguji MA 200, support terdekat berada di psikologis 6.900 dan level 6.878.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*